Belajar Tentang Keberanian

Menonton berita, membaca koran, apa yang kita temui akan sama. Korupsi, kriminalitas, dan konflik. Tindakan tanpa moral bangsa ini, khususnya para pejabatnya. Kunjungan darmawisata ke Mesir, vonis bebas terhadap tersangka korupsi, kita semua tidak asing lagi terhadap hal-hal itu. Sungguh aneh, kita tidak pernah belajar dari masa lalu. Sejarah berulang, persoalan yang kita alami sekarang terjadi juga dimasa lalu. Pertanyaannya adalah, mengapa kita tak pernah belajar? Atau mungkin kita belajar, tapi tidak berani bertindak?

Film adalah salah satu cara terbaik untuk mempelajari masa lalu. Banyak film berdasar kisah nyata yang memungkinkan kita belajar darinya. Di antara banyak film yang dibuat, kisah tentang keberanian satu orang yang mampu mengubah banyak hal adalah yang paling menarik. Paling cocok untuk bangsa ini, dimana keberanian membela yang benar adalah hal yang langka.

The Untouchables, kisah nyata tentang keberanian seorang agen yang mampu mengubah wajah sebuah kota. Perjuangan Elliot Ness memenjarakan raja mafia Al Capone. Bagaimana sebuah idealisme ditempatkan di tengah-tengah kebobrokan. Seorang agen yang harus menghadapi resistensi polisi-polisi korup.

Tanpa bermaksud memperburuk citra polisi kita, film ini tampaknya sangat pas untuk dijadikan cermin. Kondisi bobrok polisi, sedikit banyak mirip dengan polisi Chicago saat itu. Mudah disuap, resisten terhadap perubahan, korup, dan kehilangan idealismenya. Perbedaannya adalah, mereka menemukan Elliot Ness, sang idealis yang mengubah kebobrokan itu. Kita? Masih adakah seorang Elliot Ness di tubuh kepolisian kita?

Konflik etnis, kekerasan atas nama agama dan golongan mulai menjadi makanan rutin bangsa ini. Tengoklah sebuah film, Ghost of Missisippi. Bercerita tentang keberanian seorang jaksa mengungkap kasus pembunuhan berlatar belakang rasialisme. Kontroversi timbul karena tersangkanya adalah sosok yang disegani. Tokoh fanatik rasialis yang mendapat simpati justru karena sikapnya yang menomor-duakan warga kulit hitam.
Tentangan dari keluarga, bahkan istri, mengikuti langkah DeLaughter mengungkap pembunuhan Medgar Evers. Menakjubkan sekali, karena akhirnya lagi-lagi keberanian satu orang bisa mengubah banyak hal.

Sebuah otokritik, bagaimana kondisi rasialis Missisippi mirip dengan kondisi Indonesia. Segregasi atas nama agama, suku, dan golongan menjadi hal yang sah. Hukum dijustifikasi menurut kehendak kelompok. Perbedaan adalah haram, sama persis dengan pola pikir mayoritas kulit putih Missisippi saat itu terhadap warga kulit hitam. Pertanyaannya pun sama, masih adakah Delaughter Delaughter dalam aparat kita saat ini? Sosok yang mampu dan berani menegakkan hukum sama rata dan penuh keadilan? Tidak takut terhadap intimidasi atas nama kelompok, golongan, dan agama.

Keberanian yang langka
Kekurangan terbesar bangsa ini adalah langkanya sosok pemberani. Pemberani yang berani melawan resistensi dan intimidasi. Menyenangkan sekali jika dalam tubuh aparat hukum kita masih ada sosok seperti Ness dan Delaughter. Berarti masih ada harapan untuk keadaan yang lebih baik.

Tulisan ini ditujukan terutama untuk mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan. Yang menginginkan perubahan, namun tidak memiliki keberanian. Berbuatlah! Perubahan besar dimulai dari keberanian satu orang.

The Untouchables menceritakan keberanian satu orang yang mengubah wajah satu kota. Ghost of Missisippi menceritakan keberanian yang mengubah wajah satu negara bagian. Semoga suatu hari nanti, ada film yang menceritakan keberanian yang mengubah satu negara. Terlebih lagi bila negara itu adalah Indonesia.

4 thoughts on “Belajar Tentang Keberanian”

  1. mas, elliot ness itu bukan polisi… anda mungkin kurang menyimak isi filmnya ya?

    Anyway, saya tertarik dengan ide anda mengenai ‘reformasi’ polisi.. kira-kira menurut anda apa sih masalah yang ada di tubuh polisi sehingga menjadi polisi seperti sekarang ini? At least kalau kita mau memperbaiki, kita tentunya harus tau masalahnya, ya ndak?

    Thanks kalau mau sedikit sharing perspektif anda tentang problematika di tubuh polisi… (just send to artikel@wirasatya.or.id)
    bye

  2. He3x iya betul Mas Arief, maksud saya, dia agen, tapi bekerja dengan polisi. Kan saya tulis Ness sebagai ‘agen’, tapi ketika berbicara, digeneralisir jadi polisi 🙂

    Ok Mas Arief, kebetulan saya ndak ahli soal beginian, tapi saya akan berikan apa yang saya bisa. Anything for a better Indonesia right?

    salam,
    Nathanael
    TN XII/01 3073

  3. Dear, Nathanael…

    Apa kabar?? Mmmm artikel2 di sini menarik, paling tidak dengan berani menulis pendapat dan pikiran kamu di sini ato di milis sudah menjadi suatu keberanian tersendiri yang tidak semua orang bisa…

    Kata pepatah, perubahan itu dimulai dari sendiri. For our country, Indonesia… let’s start from ourselves…

    So.. yuk.. do the best for our country.. walopun tantangannya tidaklah kecil dan terkadang halangan2 itu datang dari orang2 terdekat kita…

    Wish us all the best!!!

  4. Niy Kak Iis yah?
    Waa!! Apa kabar kak, dah lama gak ketemu, kangen niy :p

    Iya niy Kak, kadang2 feeling lonely, atau desperate ketika ada yang caci maki atau orang pada apatis…

    Tapi kalo inget, bahwa aku juga punya temen, bakal punya istri, bakal punya anak, dan aku pingin semua orang yang aku sayang, semua yang aku kenal, semua orang Indonesia hidup di Indonesia yang lebih baik, aku jadi semangat lagi 🙂

    Untuk Negara Kita, Untuk Yang Diatas, dan Untuk Semua yang Kita sayang :)–>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *