Sekularisme Prancis dan Kegagapan Kita Mengelola Ketersinggungan

Credit: Mojok.co

Versi lain dari tulisan ini dimuat di Mojok.co.

Waktu saya tinggal di Indiana, Amerika, saya pernah coba beli wine di Walmart. Setelah pilih wine paling murah, saya ke kasir untuk bayar.

Sampai di kasir, saya sodorkan wine-nya untuk bayar. Ditolak. Saya sodorkan SIM, untuk menunjukkan kalau saya cukup umur. Tetap ditolak. Usut punya usut, ternyata masalahnya bukan di SIM atau umur saya. Saya tidak bisa beli wine karena hukum di Indiana saat itu melarang supermarket menjual minuman beralkohol di hari Minggu.

Hukum larangan alkohol di hari Minggu bukan hanya ada di Indiana. Banyak negara bagian lain memiliki ketentuan yang sama. Awal hukum ini bersifat religius.

Aktivis gereja Amerika tahun 1800an menghendaki hari Minggu diperlakukan sebagai hari yang suci. Mereka meminta negara melarang aktivitas komersial dan hal-hal “immoral“, termasuk konsumsi alkohol. Dalam beberapa kasus, aktivis-aktivis ini bahkan menyerang toko atau orang yang menjual alkohol dan —di mata mereka— merusak kesucian hari Minggu.

Continue reading Sekularisme Prancis dan Kegagapan Kita Mengelola Ketersinggungan

Tempat Ibadah Bau Kencing

Credit: Mojok.co

(Tulisan ini sebelumnya dimuat di https://mojok.co/nng/esai/gereja-bau-kencing/)

Setiap ada acara di luar kota yang bertepatan dengan akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri untuk ke gereja di tempat baru. Kebetulan di gereja Katolik tata ibadah dan segala macamnya sama di mana pun, jadi saya bisa bebas memilih gereja untuk ibadah. Minggu 3 September 2017 kemarin tidak beda. Karena ada conference di San Francisco (SF), California, saya pun mencari gereja Katolik di SF yang dekat dengan penginapan.

Dua tahun lalu, saat conference di kota ini juga, saya ke gereja Notre Dame Des Victoires. Kali ini saya putuskan untuk cari gereja lain. Setelah beberapa menit menelusuri Google Map, saya menemukan satu gereja yang hanya butuh 10 menit jalan kaki: Gereja St. Boniface. Saya putuskan untuk pergi ke ibadah pukul 7.30.

San Francisco kota yang relatif kotor untuk ukuran Amerika, dan mahal. Bau pesing yang menyengat bisa tercium di beberapa wilayah. Di trotoar-trotoar kota ini, cukup banyak homeless atau mereka yang tanpa tempat tinggal dan harus tidur di sleeping bag di pinggir jalan. Karena tanpa tempat tinggal, otomatis mereka juga tidak memiliki toilet. Biasanya untuk buang air kecil, mereka lakukan di botol yang kemudian dibuang di tempat sampah atau tempat lain. Untuk buang air besar? Terus terang saya tidak tahu, tapi rasanya lebih dari sekali saya melihat kotoran manusia di pinggir trotoar.

Continue reading Tempat Ibadah Bau Kencing

Game of Thrones dan Kitab Suci

Sebuah tulisan untuk menyambut Game of Thrones Season 7. Valar Morghulis.

Kamu tahu A Song of Ice and Fire (ASOIF)? Buku karangan G.R.R. Martin (GRRM) ini adalah inspirasi bagi Game of Thrones (GoT), film seri yang tayang di HBO. Buat saya ini film seri terbaik setelah The Wire. Bagi yang tidak familiar, plot GoT seperti ini: ada zombie White Walkers di utara, ada kerajaan yang saling berperang di barat, dan ada tiga naga di timur.

Night King, raja zombie dari Utara

GRRM lihai sekali bercerita dan membuat penasaran fans-nya. Ada puluhan fan theories tentang alur cerita GoT, terutama tentang siapa sebenarnya Azor Ahai, si pangeran yang dijanjikan buku primbon akan menyelamatkan dunia dari para zombie. Ada yang bilang Jon Snow, ada yang bilang Jaimie Lannister, ada juga yang bilang Ser Pounce—seekor kucing.

Continue reading Game of Thrones dan Kitab Suci

Maundy Thursday and the Love that Hurts

Maundy Thursday is always the most touching of the Three Holy Days for me. Why? Because it presents Jesus in its most human form.

On Good Friday Jesus was tortured and crucified. There’s virtually nothing He could do about that. The Romans already captured him. Whatever He said, they would probably kill Him anyway. And on Easter He rose from the death. That’s good news. No more suffering.

But on Maundy Thursday were the real temptations. He knew the time was near and He had to leave the people He loved. Can you imagine the feeling? You love a person, so much, and you realize that that night is your last night with them? It must be hurtful.

Continue reading Maundy Thursday and the Love that Hurts

My Conversation with God

I just met God.
I asked Him to gather again a piece of me that’s scattered into millions.
He refused.
He said that I had to do it by myself.

I insisted. I wanted God to help as I couldn’t do it myself.
“It’s my heart, God. Without a complete heart I can’t love, can I?”
Don’t You want me to love?”

God said, “yes, I want you to love, my dear child.”

“Then why don’t You help me gather again my scattered heart?”

He spoke not even one word.

Continue reading My Conversation with God

Membuktikan Agama…. Yakin?

Serial tweet gw di @nathanaelmu
1>Semester ini belajar research method. Course favorit. Jadi tertarik memakainya buat liat klaim2 kebenaran agama atau eksistensi Tuhan

2>Misalnya, sering orang mengklaim: agama saya satu2nya yg benar karena menjelaskan terbelahnya bulan atau akurat meramalkan bencana

3>Orang2 itu lalu menyitir ayat sbg bukti. Mereka kira dgn memberi “bukti”, mereka sudah MEMBUKTIKAN kebenaran agama mereka secara ILMIAH

4>Pertanyaannya: Apa klaim demikian valid? Apa tindakan mereka benar sesuatu yang ilmiah? Dan apa ayat2 itu bisa MEMBUKTIKAN kebenaran agama?

5>Jawaban pertanyaan itu jelas: Mereka TIDAK bersikap ilmiah & ayat-ayat itu BUKAN bukti valid kebenaran agama. Coba kita lihat alasannya.

6>Pertama, kita pinjam Karl Popper. Dia bilang bahwa teori TIDAK BISA dbuktikan benar. Teori hanya bisa DIBUKTIKAN SALAH. Sadis kan?

7>Konsekuensinya, kalo mau mendukung teori “agama saya benar,” yang harus Anda lakukan justru mencoba membuktikan agama Anda salah

Continue reading Membuktikan Agama…. Yakin?