Tuhan ada Disini

Tuhan ada disini
Di hati
Di pikiran
Di setiap nafas
Di setiap kata

Tuhan tidak jauh
Ia dekat
Ada disebelahmu
Di depanmu
Di belakangmu
Ia tidak sanggup jauh dari kamu

Tuhan mencintaimu
Dengan segala yang Ia punya
Dengan semua cinta dalam diri-Nya
Seolah-olah hanya ada kamu dalam hati-Nya

Ia tidak segan menjadi kecil
Hanya untuk bisa bersama kamu
Tidak segan jadi manusia
Agar sama seperti kamu

Dari semua hal yang dapat Ia lakukan untuk kebaikanmu
Ia memilih yang tersulit
Cinta sehabis-habisnya
Cinta sampai mati

Dari semua tempat di alam raya
Ia memilih tempat terkecil untuk tinggal
Hatimu

Tuhan adalah cinta
Ia rindu kamu menyadari
Ia ada disini

Pertapaan Santa Maria, Rawaseneng
11-14 Juli 2011

What We Really Forgot: To Pray or to Love?

Disasters that struck Indonesia leave us with one big question: What is wrong? Have we done very bad things that make us deserve the catastrophes? According to Prosperous Justice Party’s Tifatul Sembiring, the answer is yes. The disasters were a curse for our unfaithfulness. The panacea is simple, be reminded of God and keep aloof from sin.

As a religious country, such effort to relate disasters with spiritual cause is not very surprising and can easily be seen. Worship houses arranged special praying for the victims as well as asking forgiveness from God, which affirmed the disasters were really caused by our sin. Religious leaders asked for “introspection” from the whole country. Even media cannot free themselves from this spiritual euphoria. The use of phrase “Pray for Indonesia” when reporting Mentawai’s tsunami or Merapi’s eruption showed the need to seek spiritual assurance.

Surely there is nothing wrong with praying. Studies have shown that praying is comforting and helping individuals to better cope with tragedies. But the question is, were the disasters really caused by our lack of pray and our disobedience of God? In other words, had we prayed more, could the disasters be avoided? I am afraid the answer tends to no. The reason is simple: we are already too religious so it is hardly possible that we could be more religious without sacrificing our sanity.

The evidence for our religiosity is ubiquitous. In Mujani’s (2006) Muslim Demokrat, we could find that in 2002, 99% of all Muslims surveyed claimed to practice shalat routinely. 91% also said they fasted during Ramadhan. The 2001 World Values Survey’s study also found that 99.5% of Indonesian cross-religion sample believed in God and 96.9% considered God as very important in their lives. Aside from the statistics, we could even see how religious we are by observing various invitations for massive religious gatherings presented on billboards, complete with the photos of the clerics.

Continue reading What We Really Forgot: To Pray or to Love?

Do Unto Others as You Believe What God is Like

I am certainly not the only person who wonders why God does not fix this chaotic world. If I was Him, I would not be happy seeing people kill each other just to please me. Nor would I welcome in my heaven a man riding a bicycle determined to blow up a police station or a group of people hijacking planes just to be crashed into buildings with thousands of innocents inside.

Only recently did I realize that I was not God and that I must cope with all of these worldly experiences. I must submit to the reality that even though I believe violence under the name of God brings us back to ancient time when human thought God could be pleased by blood, some other people really believe violence is the only way to entertain God. I wonder why this difference exists. If we all worship one true God –given there is really one– why it seems He wants to be pleased in many contradictive ways? It is for my surprise that science, rather than religion, provides the answer.

It turns out that by what means we intend to please God depends on what kind of God we have in our mind. James Jones (2002) wrote in the journal of Psychoanalytic Review that religious violence stems in the feeling of humiliation and worthlessness. Those who commit violence see themselves as worthless and the belief is reinforced by an obedience-seeking image of God. God in their mind is an entity who can never be satisfied by human worship and does not tolerate impurity. Radicals know they can never be good enough and try to compensate this by, for example, vigorously destroying any entity perceived as offending God, trying to assure themselves that they are still meaningful and useful beings.

Another study by Mencken, Bader, & Embry (2009) in the journal of Sociological Perspective stated that whether we are more or less trustful with other people is related to whether God in our mind is a loving or irascible one. Having a benevolent image of God helps us to develop bond and trust with others, probably because we understand that they are also loved by God. A punitive and judgmental God, on the other hand, teaches us to be more judgmental and worried about others’ sincerity.

Continue reading Do Unto Others as You Believe What God is Like

Terorisme dan Otoritas Agama

Dimuat dalam majalah mingguan HIDUP No.39, 20 September 2009

“That’s human nature. Nobody does anything until it’s too late.”
(Michael Crichton)

Bom Mega Kuningan adalah sebuah keterlambatan: pemerintah terlambat mengambil kebijakan, aparat terlambat mengantisipasi aksi, media terlambat menyuarakan kewaspadaan, dan masyarakat terlambat menyadari para teroris sungguh masih berkeliaran. Baru setelah teror terjadi dan korban berjatuhan-lah ide preventif mengemuka. Aparat menggagas pengawasan atas kelompok dengan cara berpakaian tertentu. Pengamat menyuarakan kesenjangan ekonomi sebagai akar terorisme. Lepas dari kelogisannya, dua pendapat itu lebih bersifat instan ketimbang komprehensif. Mencurigai seseorang berdasar pakaiannya adalah prasangka, kadang benar tapi lebih sering salah. Di sisi lain, mereduksi terorisme ke dalam aspek sosial-ekonomi menafikan aspek ideologinya..

Psikologi Radikalisme

Dengan membuka pikiran lebih lebar, kita dapat melihat bahwa kesamaan para radikalis bukanlah status ekonominya. Kesamaan mereka terletak dalam cara melihat dunia: hitam-putih, intoleran terhadap ambiguitas. Ramakhrisna (2004) menggunakan istilah individu abstrak dan individu konkret. Mengutip Ronald Johnson, ia menjelaskan individu abstrak melihat ‘apa yang mungkin (what could be)’ sementara individu konkret fokus pada ‘apa yang ada (what is)’.

Dalam masyarakat kolektifis seperti Indonesia, hasrat mencapai kepastian ini berkulminasi pada ketergantungan terhadap otoritas. Berbeda dengan masyarakat individualis dimana individu bersandar pada kemampuannya sendiri untuk memecahkan ketidakpastian, masyarakat kolektifis terokupasi pada pendapat lingkungannya. Hal ini menjadikan pemuka (agama maupun masyarakat) sebagai sosok berpengaruh. Pendapat pemuka kelompok, alih-alih dipandang sebagai masukan, justru dilihat sebagai kemutlakan.

Continue reading Terorisme dan Otoritas Agama

Tanda Kebesaran Allah

Ada sebuah cerita. Suatu ketika, Pak Tua merasa bahwa hari itu adalah hari terakhir hidupnya. Sebagai seorang yang senantiasa belajar tentang Allah, Pak Tua ingin hari terakhir itu memberinya lagi satu pelajaran tentang Allah. Ia mengundang kerabat-kerabat dan tetangganya, memberinya satu permintaan, ”Tunjukkan pada saya tanda kebesaran Allah yang paling mengagumkan.”

Kerabatnya tidak asing lagi dengan permintaan-permintaan aneh Pak Tua. Bergegas mereka mencari orang-orang yang kiranya dapat memenuhi permintaan itu. Di penghujung hari, berkumpulah orang-orang bijak tingkat kampung lengkap dengan aksesoris dan dandanan kebesaran masing-masing. Mereka sudah menyiapkan jawaban yang pasti akan mencengangkan Pak Tua.

Orang pertama, seorang ilmuwan biologi. Di hadapan Pak Tua, ia menjelaskan berbagai macam hal mengagumkan tentang tubuh manusia. Bagaimana metabolisme dapat berjalan, bagaimana organ saling mendukung satu sama lain, dan berbagai hal lain yang (menurut ilmuwan tersebut) tidak mungkin dapat diciptakan oleh manusia. Seperti sudah diduga, Pak Tua tercengang. Ia tidak pernah sekolah, hanya belajar dari alam dan orang-orang tua sebelumnya, hal-hal demikian tidak pernah ia tahu.

Selanjutnya, seorang ahli astronomi. Ia mengajak Pak Tua keluar ruangan, dan menunjukan kepadanya bintang-bintang di langit. Karena desa Pak Tua belum masuk listrik, gugusan-gugusan bintang itu jelas sekali. Si pakar astronomi menjelaskan bagaimana bumi bahkan tidak lebih besar dari debu di lautan semesta. Jutaan tata surya di dalam Bima Sakti, dan miliaran Bima Sakti di semesta. Semua penjelasan itu berujung pada, ”Bayangkan Pak Tua, betapa besar Allah yang menciptakan semua itu.” Pak Tua sangat terkesima, selama ini ia tidak pernah tahu ada bintang di balik bintang.

Continue reading Tanda Kebesaran Allah

Otoritas Iman dan Kekritisan Umat

Bila Anda, seperti saya, tertarik mengetahui seberapa jauh individu akan bertindak mengikuti arahan otoritas atau figur berpengaruh, eksperimen Stanley Milgram adalah jawabnya. Tahun 1960an, Milgram melakukan penelitian untuk menguji hal tersebut. Dalam eksperimen, ia menempatkan subyek sebagai pengajar (teacher), dengan tugas membantu partisipan lain (yang sebenarnya adalah asisten peneliti) untuk mengingat suatu daftar pasangan kata.

Selesai membantu proses belajar, subyek menguji seberapa jauh pembelajar mengingat pasangan kata yang diberikan. Kedua partisipan ditempatkan dalam ruang terpisah, pembelajar kemudian mengucapkan ulang pasangan kata yang telah diingatnya. Setiap terjadi kesalahan, Milgram menginstruksikan subyek ‘menghukum’ pembelajar dengan memberikan kejutan listrik. Aliran listrik yang dialirkan bervariasi, mulai dari 15 hingga 450 Volts. Setiap kesalahan meningkatkan besar tegangan.

Sepanjang eksperimen, setiap kali voltase listrik semakin tinggi, pembelajar di ruang sebelah mengerang kesakitan. Pada tegangan tertentu, pembelajar bahkan memohon agar eksperimen dihentikan. Bila subyek ragu dan berpikir untuk menghentikan eksperimen, kepala peneliti, yang berada satu ruang dengan subyek, hanya mengatakan, ”there is no choice, you must continue”.

Continue reading Otoritas Iman dan Kekritisan Umat