Warm Bodies: What the Dead Tells Us about Life

I just watched Warm Bodies with some friends. It’s an awesome movie and now I understand why it got positive reviews. There are three reasons why I love this zombie movie. First, it is extremely enjoyable and funny. I’ve been trying to recall a romantic movie that is as funny as Warm Bodies but failed miserably. Second, the dialogue is minimal, which really helps non-English speakers like me. I remember when I watched Lincoln and Cloud Atlas and felt like my brain stopped working after the movie was over. The third reason, as my friend put it well, is because Warm Bodies successfully revives what are basically outdated themes—so outdated in fact that they have become cliches.

Love Unites Differences
What can be more cliche than those “love unites differences” or “love reconciles enmities” stuffs? Romeo and Juliet, City of Angels, Twilight, Titanic, you name it, they are all about how two persons from different backgrounds become one because they love each other.

However, no matter how cliche the theme is, Warm Bodies isn’t trapped in that cliche. For one part, Isaac Marion’s (Warm Bodies author) use of zombie and human as the conflicting backgrounds is unique by itself. Love may already been shown to unite two people from different social statuses, two countries, or two opposing political groups; but that love unites the living and the lifeless, only Warm Bodies nails it.

Life is about Love
Warm Bodies actually moves further than love unites the persons who are in love. In it, love also brings the dead back to life. In other words, to put it in a cliche manner, life is all about love, about connection. Even a zombie feels frustrated with the inability to make connections with fellow zombies. As one of R’s groaning means, “Must have been a lot better before, when everyone could express themselves, communicate their feelings and just enjoy each other’s company.”

The moment that connection happens, things get better: a zombie is getting back to life by playing baseball with a human, who patiently keeps throwing ball to him, having the faith that at one time he will learn to catch it; a zombie kid, used to wander and get lost in the airport, gets cured when human kids are willing to play hide-and-seek with her. In a scene that makes the audience laughs, one helps a zombie getting his life back by helping him to open his umbrella.

Continue reading Warm Bodies: What the Dead Tells Us about Life

Soekarno, Sjahrir, Hatta, Tan, dan Valentine

Valentine datang lagi! Walaupun disambut berbunga-bunga dan dengan bunga oleh mereka yang udah berdua, bertiga, atau berempat, burung-burung maya di Twitter mengicaukan kegelisahan para jomblo, baik mereka yang jomblo true to the heart (menghayati kejombloannya dengan hati lapang), mendadak jomblo (baru aja diputusin -___-), atau calon jomblo (doi udah ngasi tanda-tanda bakal mutusin).

Karena gue sungguh memahami perasaan para jomblo galau itu, jadilah gue putuskan buat nulis note ini. Selain karena gue berharap tulisan ini bikin seseorang ngomong ke gue kata-kata Pram “Tahukah kau mengapa kau ku sayangi lebih dari siapapun? Karena kau menulis”, harapannya note ini mendamaikan hati yang galau, meramaikan hati-hati kesepian, atau mengisi waktu luang manusia-manusia pengangguran.

Alkisah, sebelum ada negara bernama Indonesia, tersebutlah empat jomblo: Soekarno, Sjahrir, Hatta, dan Tan Malaka. Meskipun sama-sama jomblo ketika lahir, keempat orang ini akan menjalani kehidupan cinta yang berbeda 4 x 45 derajat.

Soekarno
Soekarno lahir di awal millenium, 6 Juni 1901. Umur 19 tahun, Soekarno mengakhiri kejombloan dengan menikahi Siti Oetari. Tiga tahun kemudian, 1923, mereka cerai dan Soekarno menikahi Inggit. Dua puluh tahun kemudian, Soekarno cerai lagi dan menikah dengan Fatmawati. Selanjutnya, Soekarno menikah lagi dengan Hartini, Naoko Nemoto, Kartini Manoppo, Yurike Sanger, Heldy Djafar, dan Amelia de lo Rama. Detail kisah percintaan pemimpin besar revolusi ini sengaja tidak diceritakan karena gue belum selesai baca tidak ingin melukai perasaan jomblo-jomblo yang cari satu aja susah banget…. (solemn tone playing…)

Continue reading Soekarno, Sjahrir, Hatta, Tan, dan Valentine

Monolog Mau Mati

Aku: “Aku mau mati…..hidup ini terlalu berat”

Aku: ”Pengecut!! Mati itu mudah, melawan hidup itu yang berat. Enak sekali kau laridari tugasmu.”

Aku: ”Tahu apa kamu? Tahu apa tentang tugas? Aku yang menghadapi hidup, kamu? Apa yang kamu lakukan hah? Berceramah, mengkritik, menasihati.”

Aku: ”Kamu sendiri yang memilih tugas ini, bukan aku. Belum sebulan, dan kamu sudah akan mengingkari arti hidupmu?”

Aku: ”Aku tidak mengingkarinya. Aku hanya menginginkan beberapa penyesuaian.”

Aku: ”Penyesuaian atau kesenangan? Kamu tidak bisa membohongiku. Aku ini kamu”

Aku: ”Terserah kamu menyebutnya. Tapi hidup tidak bisa terus begini. Aku tidak mengingkari untuk apa aku datang, tapi aku juga tidak ingin mengingkari yang datang kepadaku”

Aku: ”Ya, terima saja semua yang datang kepadamu. Terima saja semua. Setelah itu, mintalah dijemput karena kamu pasti kehilangan jalanmu.”

Continue reading Monolog Mau Mati

Cinta yang Tulus itu ya Cinta

Selasa tanggal 28 November besok bakal jadi deadline untuk salah satu tugas teraneh yang pernah saya terima. Menunjukkan apakah cinta yang tulus itu ada di bumi ini. Pak Dosen meminta kelompok-kelompok mempresentasikan jawabannya, plus harus didukung dengan argumen masuk akal berangkat dari pengalaman atau pengamatan masing-masing.

Sebenarnya bukan tugasnya yang membuat saya mengernyitkan dahi. Tapi penggunaan frasa ‘cinta yang tulus’. Memang sih, bukan hanya Pak Dosen yang menggunakan frasa itu, tapi -barangkali- hampir semua masyarakat. Justru disitu permasalahannya, kok seperti tidak ada yang merasa aneh dengan frasa itu.

Continue reading Cinta yang Tulus itu ya Cinta

Cerita Cinta

Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.

Continue reading Cerita Cinta

Jadi ya, itulah cinta

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana aku bisa menemukannya?

Sang guru menjawab, “Ada padang yang luas didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali. Ambillah satu ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, berarti kamu telah menemukan cinta”

Continue reading Jadi ya, itulah cinta