Sekularisme Prancis dan Kegagapan Kita Mengelola Ketersinggungan

Credit: Mojok.co

Versi lain dari tulisan ini dimuat di Mojok.co.

Waktu saya tinggal di Indiana, Amerika, saya pernah coba beli wine di Walmart. Setelah pilih wine paling murah, saya ke kasir untuk bayar.

Sampai di kasir, saya sodorkan wine-nya untuk bayar. Ditolak. Saya sodorkan SIM, untuk menunjukkan kalau saya cukup umur. Tetap ditolak. Usut punya usut, ternyata masalahnya bukan di SIM atau umur saya. Saya tidak bisa beli wine karena hukum di Indiana saat itu melarang supermarket menjual minuman beralkohol di hari Minggu.

Hukum larangan alkohol di hari Minggu bukan hanya ada di Indiana. Banyak negara bagian lain memiliki ketentuan yang sama. Awal hukum ini bersifat religius.

Aktivis gereja Amerika tahun 1800an menghendaki hari Minggu diperlakukan sebagai hari yang suci. Mereka meminta negara melarang aktivitas komersial dan hal-hal “immoral“, termasuk konsumsi alkohol. Dalam beberapa kasus, aktivis-aktivis ini bahkan menyerang toko atau orang yang menjual alkohol dan —di mata mereka— merusak kesucian hari Minggu.

Continue reading Sekularisme Prancis dan Kegagapan Kita Mengelola Ketersinggungan

How China’s Foreign Policy Shapes Prejudice against Chinese Indonesians

(AP Photo/Dita Alangkara)

This piece is also published at New Mandala. The version here describes in greater details the methodology used.

How do Indonesians’ views on the People’s Republic of China at large shape their attitudes towards Chinese Indonesians? Do China’s domestic and foreign policy actions have consequences on prejudice towards Chinese Indonesians? Our study finds that they do indirectly, by first affecting the benefits and drawbacks that Indonesians perceive in fostering close Sino-Indonesian relations.

Continue reading How China’s Foreign Policy Shapes Prejudice against Chinese Indonesians

Apa yang Bisa Indonesia Pelajari dari Tensi Rasial di Amerika?

Image: JONATHAN BACHMAN/REUTERS

Kota-kota besar di Amerika sedang dilanda protes masal dan kerusuhan menyusul tewasnya seorang kulit hitam George Floyd di tangan polisi Minneapolis, Minnesota. Floyd bukan korban pertama polisi Amerika. The New York Times melaporkan bahwa di tahun 2019 saja, lebih dari seribu orang terbunuh oleh polisi di Amerika.

Sebagai negara yang secara literal berada di belahan bumi lain, respon natural kita terhadap persoalan rasisme ini barangkali sebatas mengikuti di TV dan berita. Beberapa dari kita mungkin merasa jumawa, bangga karena Indonesia tidak punya masalah rasisme seserius Amerika.

Respon yang lebih tepat, menurut saya, adalah memakai pengalaman Amerika ini untuk refleksi diri dan belajar. Ada empat pelajaran dari sejarah rasisme di Amerika yang bisa kita ambil untuk memperbaiki relasi antar kelompok di Indonesia dan meningkatkan mutu demokrasi kita.

Continue reading Apa yang Bisa Indonesia Pelajari dari Tensi Rasial di Amerika?

Measuring Religious Intolerance across Indonesian Provinces

This article was previously published by New Mandala.

How do Indonesian provinces vary in the levels of religious tolerance among their Muslim populations? Which province is the most tolerant and which one is the least? And how do we measure religious tolerance across regions using the tools of survey research? Having an answer to these questions is important, as it can help us understand how tolerance at the local level is influenced by local political dynamics, or how levels of tolerance might fluctuate over time.

But despite ample survey research on religious tolerance in Indonesia, these seemingly simple questions have not been satisfactorily answered. Most existing studies have overlooked the importance of subnational variation altogether, and those that look at the topic employ statistical methods that do not really allow proper comparisons, or measurements of the tolerance/intolerance construct.

Continue reading Measuring Religious Intolerance across Indonesian Provinces

Kebebasan Beragama Pasca-Soeharto

Mei 1998, 22 tahun lalu, Soeharto jatuh dari kekuasaan setelah bertahta selama 32 tahun. Banyak perubahan yang terjadi setelah kejatuhan Soeharto. Sebagian positif, sebagian negatif.

Di antara perubahan yang ramai didiskusikan dan dibicarakan adalah menurunnya kebebasan beragama. Kata sebagian orang, kebebasan beragama di era pasca-Soeharto lebih buruk dari era Soeharto.

Tapi apa benar demikian? Beberapa waktu lalu saya dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina berdiskusi soal ini. Link diskusinya bisa dilihat di sini:

Continue reading Kebebasan Beragama Pasca-Soeharto

Menjadi Golput adalah Sebuah Privilese

Banyak yang menyerang golput (mereka yang memilih untuk tidak memilih dalam pemilu) sebagai pengecut atau bodoh. Jelas salah kalau menyebut golput sebagai pengecut. Banyak golput di-bully karena pilihannya dan mereka tetap bergeming. Jadi jelas mereka bukan pengecut. Lagipula, untuk apa menghina orang karena pilihan politiknya? Masyarakat kita sudah lelah disuguhi kata-kata hinaan seperti cebong dan kampret. Tidak perlu menambahkan bodoh atau pengecut.

Lalu kenapa judul tulisannya “Menjadi Golput adalah Sebuah Privilese” kalau isinya membela golput? Karena bagi saya, golput bukan tentang jadi pemberani atau pengecut. Bukan pula tentang pintar atau bodoh. Golput adalah tentang privilese dan pemahaman demokrasi yang berorientasi kepada diri, kepentingan, dan idealisme kita sendiri.

Continue reading Menjadi Golput adalah Sebuah Privilese