Kekuatan Tanpa Kekerasan

Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K. Gandhi untuk Tanpa-Kekerasan. Pada tanggal 9 Juni ia memberikan ceramah di Universitas Puerto Rico dan bercerita bagaimana memberikan contoh tanpa-kekerasan yang dapat diterapkan di sebuah keluarga.

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop. Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu.

Continue reading Kekuatan Tanpa Kekerasan

Siapa Berhak Kritik Israel?

Lagi, Israel menggunakan sumber daya militernya untuk melakukan apa yang disebut ‘penghukuman kolektif’. Dan, -sama seperti sebelum-sebelumnya- aksi itu diklaim hanya sebagai reaksi atas penculikan dan serangan yang dilakukan pihak militan. Aksi-reaksi, bukankah itu hal biasa dalam dunia konflik? Satu tembakan dibalas dua tembakan, dua nyawa dibalas lima nyawa. Lalu, apa yang istimewa dalam konflik Israel dengan Hizbullah kali ini?

Barangkali, satu hal yang membuat konflik ini begitu abadi dan istimewa adalah tidak seimbangnya kekuatan pihak-pihak yang bertikai. Israel, berkat dukungan berbagai bentuk dari Amerika Serikat dan sekutunya, menjadi begitu kuat. Sedangkan Hizbullah, dapat dikatakan hanya bermodal militansi semata. Roket diperbandingkan dengan pesawat tempur, bom konvensional dengan artileri berat.

Continue reading Siapa Berhak Kritik Israel?

Hantu itu bernama Prasangka

Ada yang membuat saya gelisah di awal semester IV, apa lagi kalau bukan tentang dosen. Dosen galak, banyak tugas tapi pelit nilai, di kelas mahasiswa wajib tenang, intinya semua syarat ’dosen membosankan’ terpenuhi. Rasanya, setiap hari mengajar Pak Dosen, malas benar jika harus ke kampus. Plus, sebagai penambah rasa malas, kuliah beliau baru selesai pukul 19.00. Paling malam diantara mata kuliah lain.

Kualifikasi dosen merembet ke mata kuliah. Jadilah saya ikut alergi terhadap mata kuliahnya. Aneh benar, karena baru beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminarnya Pak Khrisna Murti. Menurut Pak Khrisna, harus dipisahkan antara dosen dan mata kuliah, antara guru dan mata pelajaran yang diajar. Menurut saya juga begitu, tapi namanya sudah telanjur alergi, jadi tidak terpikir sampai sana.

Tibalah Ujian Tengah Semester. Seperti biasa, saya ndak tertarik untuk belajar mata kuliah yang saya alergi, pun mata kuliah Pak Dosen. “Wisben, mbuh ora weruh (Biaran amat, nggak mau lihat). Meskipun belajar, toh akhirnya subjektifitas beliau yang bekerja.“, begitu batin saya. Ketika lembar jawaban dikumpulkan, bagi saya selesailah persoalan.

Continue reading Hantu itu bernama Prasangka

TOLAK TIRANI, TANPA HENTI!

TOLAK TIRANI, TANPA HENTI!
suatu hari engkau akan tersenyum, untuk hari-hari yang menyesakkan:
saat berjuang, mungkin yang kau hadapi,

mereka yang menertawai atau mereka yang mengintimidasi

kemudian ketika engkau bertahan, yang akan dihadapi,

mereka yang siap menyakiti atau kawan yang tengah mensiasati.

Dan ketika engkau terus melangkah pada titik dimana kamu yakin akan perjuanganmu:

yang akan kau hadapi adalah senyum keheranan atau rasa kecut,

dan sedikit sekali yang ingat, bahwa semua itu berawal dari keinginan bersama:

karena tidak satupun perjuangan dapat dilakukan oleh seseorang.

Selalu yang namanya perjuangan adalah ketika berani bersama

meluluhkan keinginan diri sendiri dan memajukan tujuan yang ingin dicapai,

sekalipun yang luluh namamu sendiri,

akan mulia karena menyuburkan kebersamaan semangat juang itu.
maka selalu semoga terjaga kebersamaan, persaudaraan dan membangun pengertian:

TOLAK TIRANI, TANPA HENTI
dengan penuh kasih sayang

(Tulus Ngayah, seri melankoli)

Menegaskan Kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia

“Menegaskan Kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia”, begitulah judul tulisan ini. Apa yang ingin ditegaskan? Bukankah negara ini masih Negara Kesatuan berbentuk republik? Alih-alih mencerahkan, tulisan ini mungkin malahan berbau Orde Baru. Sentralisasi atas nama Negara Kesatuan. Benarkah begitu? Tidak!

Tulisan ini hanya bermaksud mengangkat sebuah fenomena. Di tengah situasi plural dan segala perbedaan bangsa ini, wacana untuk membentuk sebuah negara teokrasi ternyata
semakin mengental. Entah secara terang-terangan dijadikan sebagai tujuan organisasi, ataupun dengan cara yang lebih halus, fenomena ini merupakan hal nyata di negara kita.

Continue reading Menegaskan Kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia

Negara Preman

Ada satu perbedaan menarik antara hidup dimasa reformasi dengan hidup di jaman Orde Baru. Jika dulu masyarakat menutup mulut rapat-rapat, sekarang yang terjadi justru perlombaan membuka mulut. Satu kecenderungan yang jelas terlihat adalah maraknya aksi-aksi massa. Jika pemerintah menerapkan suatu kebijakan, mereka yang menentang akan mengumpulkan massa dan turun ke jalan. Jika pasangan calon kepala daerah kalah dalam pilkada, mereka yang tidak puas juga akan turun ke jalan.

Aksi massa seakan menjadi senjata ampuh di saat ini, logikanya sederhana saja, yang banyak yang menang. Massa yang banyak seakan meningkatkan posisi tawar bagi tuntutan atau tema yang diusung. Seakan bukan hal yang penting, apakah tuntutan tersebut relevan dan berguna bagi masyarakat umum atau tidak, yang penting adalah banyaknya massa yang datang.

Continue reading Negara Preman