RUU Yang Kehilangan Makna

Saya tersentak. Sebuah foto perempuan tua menari, tanpa pakaian penutup bagian atas tubuhnya. Sebuah pertanyaan, “Apakah Anda akan menyebut ini pornografi?”. Pertanyaan yang dalam.

Sejenak saya merenung, dan teringat kepada sebuah Rancangan Undang-Undang. Sebuah Rancangan Undang-Undang tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Kemudian saya menelisik pasal demi pasal RUU tersebut, mencari tahu apa itu pornografi.

“Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksplotasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika.” Demikian RUU tersebut mendefinisikan kata ‘pornografi’. Kecabulan sendiri dijelaskan sebagai “hal-hal atau perbuatan yang mengandung sifat-sifat cabul, yakni sifat-sifat keji dan kotor, tidak senonoh atau melanggar kesopanan dan/atau kesusilaan”. Jika begitu, saya yakin, RUU ini akan mengkategorikan perempuan tua itu sebagai pelaku pornografi. Mempidana dengan ancaman hukuman kurungan atau denda ratusan juta rupiah.

Gambar itu dapat dilihat dengan mudah di http://jiwamerdeka.blogspot.com, sebuah tulisan dengan judul “DEFIANCE!!! PERLAWANAN!!!”. Menggambarkan bagaimana kerasnya penolakan rakyat Bali terhadap RUU ini. Jika sebuah produk hukum mengalami penolakan sedemikian kerasnya, bahkan dapat menimbulkan disintegrasi, sudah tentu ada yang salah.

Kehilangan Makna
Melalui penjelasan-penjelasan yang diberikan, RUU ini memberi batasan yang kabur dan sangat lebar tentang pornografi. Ketika kita bicara tentang pornografi, kita bicara tentang suatu kejahatan terhadap kemanusiaan. Kejahatan terhadap kebertubuhan dan hakikat tubuh manusia. Suatu kejahatan dimana tubuh manusia dianggap semata-mata hanya sebagai objek seksual.

Namun, RUU ini, tanpa sebab yang jelas, memasukkan banyak hal –yang sebenarnya bukan pornografi- sebagai pornografi. RUU ini kehilangan maknanya ketika ia berusaha mengatur nilai-nilai dan kemajemukan budaya Bangsa Indonesia. Bukan hanya nilai dan budaya, bahkan moralitas individu pun berusaha untuk diatur.

Ketika RUU ini mengatur tentang aturan ciuman (pasal 27), timbul sebuah pertanyaan. “Apa kaitan pornografi dengan sebuah ciuman?” Bukankah ini sebuah hal yang mengada-ngada, mempornografikan sesuatu yang bukan pornografi?

Atau ketika RUU ini mendefinisikan secara sepihak bagian-bagian tubuh yang sensual, Penjelasan Pasal 4: ”Yang dimaksud bagian tubuh tertentu yang sensual antara lain adalah alat kelamin, paha, pinggul, pantat, pusar, dam payudara perempuan, baik terlihat sebagian maupun seluruhnya”. Timbul masalah dengan penggunaan kata ‘antara lain’. Selain menunjukkan bahwa RUU ini dapat dipermainkan oleh penguasa yang berkepentingan, terlihat pula bahwa para konseptornya pun tidak yakin dengan definisi yang diberikan.

Defiance! Perlawanan!
Ketika sebuah aturan yang yang monolitik dipaksakan, yang terjadi adalah perlawanan. Ketika RUU ini sangat menabukan seksualitas, serta menganggapnya kotor dan menjijikkan, yang muncul adalah perlawanan.

Sebagaimana dikatakan saudara-saudara kita di Bali, “Jangan pandang seksualitas dengan pandangan yang dangkal dan rendah. Bahkan Dewi Durga dalam Hindu pun selalu digambarkan dengan payudara yang penuh dan telanjang, untuk menekankan rasa belas kasih Sang Dewi yang tak terbatas dalam ‘menyusui’ alam semesta.”

Saya akan kutipkan satu hal, satu yang indah dari tulisan di blog tersebut. Tulisan yang selayaknya bisa mengubah persepsi kita tentang seksualitas, membuat kita lebih jernih dalam berpikir. Serta –semoga- membuat para penyusun RUU ini sadar akan kesalahan dan bahaya dari RUU yang mereka usung.

“Pandanglah payudara sang penari yang telanjang, yang keriput….…dan ingatlah, cinta yang telah diberikannya melalui payudara itu. Kesusahan hidup yang telah ditanggungnya, untuk memberi hidup pada anak dan cucunya..”

“Kami akan lawan setiap undang-undang yang merendahkan budaya kami serta yang tidak memiliki rasa hormat kepada para ibu dan saudari perempuan kami.”

7 thoughts on “RUU Yang Kehilangan Makna”

  1. Negara berhubungan dengan ruang publik. Tuhan berhubungan dengan ruang privat? Itu hanya ada di pikiran sekularis. Ingat, Indonesia adalah negara banci, bukan sekuler, bukan pula negara agama.

  2. He3x pertanyaannya simple aja,
    misalnya Indonesia mengharuskan rakyatnya menjadi Ateis, abang mau gak?

    Kalo gak mau, berarti abang juga sekuler, sebab tidak setuju negara mengatur keyakinan abang akan Tuhan.

    Kalo mau, abang membawa kontradiksi dengan semua yang abang omongin yang selalu menebarkan utopi kekafilahan

  3. Nathan, aku dilahirkan dalam sebuah “religius” yang biasanya (sekali lagi BIASANYA) mendoktrin orang untuk menjadi narrow-minded, melihat segala hal hanya dari cara berpikirnya saja (baca => dari suduh agamanya saja).
    Namun, semenjak aku beranjak dewasa, semakin aku banyak membaca, semakin aku bergaul dengan orang yang berasal dari banyak etnis dan agama, juga teman-teman dari luar negeri, semakin aku tahu betapa orang-orang yang dulunya mendoktrin aku untuk menjadi religius, adalah orang-orang yang picik pikirannya, yang tidak pernah mau memahami bahwa, seperti yang kamu katakan di sini “Tuhan berhubungan dengan ruang privat”.
    So, you see, Nathan, aku dulu berasal dari lingkungan yang hanya memandang dari satu perspektif saja–agama, kemudian berkembang (bahasaku sendiri si berkembang 🙂 dan bukan kemunduran) dan aku menjadi amat mengerti bahwa apa yang kamu katakan, dan juga teman-temanku katakan, dan juga banyak buku yang kubaca bahwa memang agama dan ritual ke-Tuhan-an itu adalah ruang privat, dan negara sama sekali tidak berhak untuk mengotak-atik ruang privat milik individual ini.
    Aku sedih, Nathan, mengapa orang-orang itu (e.g FPI) yang sok merasa ahli surga (baca => calon masuk surga) dengan semena-mena membredel Playboy, dan juga ngotot untuk menggolkan RUU APP menjadi UU APP. Mengapa mereka tidak mencoba berpkir dari sudut pandang lain?
    Btw, Nathan. Really love reading your posts here. Great thinking!!!
    Salam kenal yah …

  4. kalo menurut aku Mbak, kenapa banyak orang tidak bisa menerima agama sebagai ruang privat, karena konsekuensi dari hal itu adalah bahwa pencarian Tuhan dan kehidupan keagamaan menjadi tanggung-jawab pribadi.

    Jika negara/lembaga2 lain mengatur agama dan keimanan, banyak orang merasa tenang, karena dengan demikian ia -merasa- tidak perlu meraba2 kebenaran dalam pencarian Tuhan. Saya pribadi melihatnya dalam konteks ‘comfort zone’, selalu diajari orang dalam hal agama itu bagi sebagian orang menyenangkan dan tdk perlu tanggung-jawab besar.

    He3x, kalo dibikin joke. Misalnya ada orang taat banget sama ajaran2 pemimpin agama-nya, tanpa kritik. Begitu meninggal, pemimpinnya masuk surga, -karena taat- si pengikut akhirnya masuk surga juga. Beres 🙂 Tapi kalo ternyata si pemimpin agama gak masuk surga, si pengikut bisa ngomong sama malaikat “aku kan cuma ikut Bapak Anu, yang ngajarin kan dia, bukan saya” Melepaskan diri dari tanggung-jawab.

  5. You are right Nathan. Memang buanyak sekali orang semacam itu di negara kita ini, orang-orang yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat, untuk kemudian menyalahkan pihak lain. Memang lebih enak mencari dan kemudian menyalahkan kambing hitam, daripada mengaku diri bahwa something wrong with ourselves.
    Heran, gimana orang bisa terus menerus hidup seperti itu yah? Tidak pernah dewasa … 🙁

  6. Wah, kalo pertanyaannya ‘kenapa’ saya juga gak tau Mbak :p

    Tapi, seorang anak kecil pun gak mau dibilang kecil kan? Kalo ada anak ngerengek minta permen, trus dibilangin sama orang-tuanya, “Dek, kamu udah besar, mbok ya jangan gitu”. Toh, si anak gak bakal berhenti nangis, sekaligus juga tidak merasa kalo bersikap kekanak-kanakan :)–>

  7. yupzzz…merdekaaaaaaaa!!!!!

    mbok pemimpin2 punya pikiran, perasaan, keberanian yg sama yaH.. intinya mbok duweO..HATI NURANI & BUDI ngono LHO!

    mimpi kali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *